Skip to main content

Posts

Ayahku Idolaku

Ayah, dialah lelaki yang pertama kali jatuh cinta padaku, bahkan sebelum aku dilahirkan. Dia pula orang yang paling mencintaiku tak peduli seperti apa rupaku, sekeras apa sifatku, dia selalu mencintaiku sepanjang hidupnya. Dia mengajariku banyak hal, mulai dari membaca, sholat, mengaji dan pelajaran tentang perjuangan dan kehidupan.


Di mataku, ayahku adalah sosok suami dan ayah yang sempurna. Paket lengkap dari kesholehan, rupa, sifat dan kemapanan dimilikinya. Ibu pernah bercerita, bahwa sejak mereka menikah 31 tahun lalu, ayah tak pernah melewatkan bangun untuk sholat malam. Kebagusan sifatnya terlihat dari caranya memperlakukan istrinya. Tapi, tolong jangan dibayangkan perlakuannya romantis seperti drama korea ya. Haha.. Aku tidak pernah melihat ayah dan ibuku bertengkar, meskipun hanya pertengkaran kecil. Ya, tentunya tidak semata-mata karena ayah, tapi juga ibu yang taat pada suami dan tak pernah mengeluh. 
Jika berbicara tentang kemapanan, saat itu ayahku adalah guru PNS dengan…
Recent posts

Berprestasi dan Jumlah Piala

Baru kemarin ngobrolin tentang sekolah dengan saudara saya Ali Ridho, ditambah lagi baca tulisan ini yang membuka cakrawala lebih jauh tentang kompetisi dan kolaborasi. 
Kemarin, saudara saya sempat menceritakan sebuah sekolah alam yang terletak di Kendal yang mana siswa-siswi disana tidak pernah ikut lomba karena tahu kebanyakan lomba itu juaranya sudah ditentukan sebelumnya, alias settingan semata. Kami juga berbicara betapa di dunia pendidikan dan bahkan kehidupan kita sehari-hari lebih banyak kompetisinya. Misalnya saja, antar pedagang yang saling menjatuhkan, alih-alih membantu agar sama-sama mendapat keuntungan. Dalam hati saya berkata, yah..kunci dari sekolah yang baik, perkembangan anak yang baik bukanlah kompetisi, tapi kolaborasi. 
Saya sendiri termasuk penganut kompetisi akut. Betapa sering saya memotivasi siswa untuk menjadi lebih baik ketimbang orang lain, memberi semangat agar mereka memiliki kelebihan tersendiri. Padahal, di lain waktu saya juga sering mengatakan bahwa…

Refleksi di Hari Guru

Hari guru kemarin, bisa jadi salah satu hari guru paling berkesan bagi saya. Sejak menjadi guru delapan tahun lalu, baru kali ini dapat kejutan dari siswa. Beberapa diantara mereka menyanyikan lagu Guruku Tersayang, diselingi puisi dan diakhiri acara pemberian bunga. Tak kalah pentingnya yaitu sesi foto dan selfie, haha..secara guru jaman now gitu..apa-apa difoto, gak kalah ngehits dari muridnya. 

Reviewing Lesson by Playing Human Board Games

Having six hours for English lesson is what probably many English teachers want. However, for someone who doesn't prepare lesson well like me, it sometimes stressful. Actually we have five hours per week and one hour for exam. Unfortunately, I don't use the time as it should be used. I just teach the regular material or sometimes gives exam material because I realize that this kind of thing will confuse the students.

Seseruan di English Campnya Great of Pekalongan

Ini nih event kolaborasi KGB Pekalongan dengan Great, yakni English Camp. Dalam event ini, KGB dengan stok guru Bahasa Inggris serta beberapa teman lain mengisi beberapa games. Selain itu, beberapa teman juga menjadi LO atau pendamping peserta. Tentunya mereka yang menjadi pendamping  ini yang single seperti Bu Dias, Pak Wahyu, Bu Amel, Bu Inayah dan Pak Dahlan. Kalau saya mah lewat, secara keron sama anak semata wayang yang sementara dititipkan dulu di rumah Simbah Putriinya.  
Pada kesempatan ini, kami memainkan Introduction Games dan Noah's Ark. Kedua games ini merupakan hasil pemikiran panjang teman-teman karena kami diminta mengisi bagian Team Building. Selain sesi Team Building ini, Pak Dahlan juga didaulat untuk mengisi saat sesi Show Case. 

Mencoba Quizziz di Kelas

Bergabung dalam sebuah komunitas yang bernama KGB (Komunitas Guru Belajar) membuat saya lebih cepat mendapatkan cara-cara mengajar atau teknologi terbaru yang dapat diterapkan di kelas. Kali ini, saya akan bercerita tentang quizziz, sebuah tes online yang mirip dengan game. 

TPN 2017: Kelas Penggerak, Miskonsepsi Pendidikan

Bagi anggota KGB Pekalongan yang ikut TPN, nama penggerak atau bukan hanyalah perwakilan saja karena jumlah beasiswa yang ditawarkan terbatas. Sebenarnya, bisa dikatakan hampir semua yang ikut TPN pantes mendapat gelar penggerak.
Keistimewaan sebagai penggerak diantaranya adalah menginap di orang tua cikal/ LPMP (baca: free) dan dapat mengikuti kelas penggerak yang artinya juga mengerjakan tugas awal penggerak. Penggerak artinya tidak hanya belajar untuk dirinya sendiri, tetapi berkewajiban menghidupkan KGB daerahnya dan memotivasi guru lain untuk belajar. 

Dalam waktu kurang lebih 9 jam itu, kami mendapatkan beberapa materi menarik, diantaranya tentang teori jejaring sosial dan mengawali gerakan. Dalam kegiatan ini, Bu Najeela Shihab sebagai pendiri Kampus Guru Cikal juga menjelaskan tentang berbagai miskonsepsi dalam pendidikan. 
Beberapa kata-kata beliau cukup menohok bagi saya, menimbulkan kefahaman tersendiri kenapa teman-teman yang sudah malang melintang di dunia per-KGB-an sep…